Berita Dari Kawan Marco
Bagaimana kabarmu kawan,
Sudah terlampau lama aku tidak menyentuh tanah yang dulu pernah aku huni. Tanah ini pernah membasuh kaku dan tanganku. Disinilah tempat kami dulu berkumpul, bergerak dan membuat siasat. Lama, mungkin terlampau lama. Tapi sepertinya baru kemarin aku bertengkar dengan Dr. Rinkes. Pejabat kolonial yang arogan dan sok akademis. Aku paham karena ia di bayar untuk melakukan tindakan seperti itu. Titelnya saja Penasehat Urusan Pribumi: sebuah nama yang menunjukkan betapa tinggi kedudukannya dibanding rakyat untuk kebanyakan. Tapi bagiku seorang penjahat tetaplah penjahat. Tak ragu aku menyerangnya melalui tulisan ketika meminta agar Sarekat Islam jangan memuat tulisanku tentang kemiskinan. Kukatakan pada Dr. Rinkes pada saat itu:
Marco seorang dari orang-kecil-stand (kelas, golongan) tiada pernah menginjak halaman rumah sekolah, kurang lebar pemandangannya dsb, dsb.
Meskipun begitu, takdir Tuhan yang Esa, Marco diberi : dua mata, dua telinga, dua tangan, satu kepala, satu mulut, seperti orang kebanyakan.
Kedua mata marco itulah tiada berbeda dengan matanya seorang keluaran dari Universietet(sekolah tinggi). Jadi kalau Marco melihat barang berwarna putih, tentu barang itu juga menampak ke mata orang-orang yang terpelajar putih juga.
Begitu seterusnya….
Kemiskinan yang membawaku berpolemik dengan Dr. Rinkes. Ia meremehkan apa yang kuanggap sebagai persoalan serius. Usia perdebatan itu sudah melewati abad tapi aku tersentak melihat kenyataan yang kutemui. Kulihat jalanan orang miskin berceceran dimana-mana. Kubaca koran orang miskin mati bunuh diri. Mataku seperti meleleh membaca berita itu. Diam-diam tanganku kukepalkan! Dimana engkau berada anak muda?? Mengapa kalian diam, tidak melawan dan bergerak? Menyaksikan kemiskinan yang pedih dan tak mampu untuk diubah. Aku, semaoen, suwardi, dr Tjipto menentang kolonialisme karena percaya nasib rakyat tidak akan lebih baik jika negeri ini di bawah kaki penjajah. Mereka akan selalu dimiskinkan, dihina dan ditindas. Kini perjalanan waktu sudah memintas berabad-abad; kondisi ternyata tak banyak berubah. Diantara kami semua pernah merasakan pahitnya perlawanan. Aku dibuang begitu juga dan nasib yang sama menimpa kawan-kawan pergerakan waktu itu. Kelak di dalam sel yang pengap dan bau, kutulis tekadku bulat-bulat :
Didalam penjara tidak enak tercerai dari istri dan anak, berkumpul dengan maling dan perampok, tapi jangan takut kami berjalan terus, tetapi kami merasa haus, adapun pengaharapan tak putus, kalau perlu boleh sampai mampus…..jalan yang aku tuju amat panas, banyak duri, pun anginnya keras, tali-tali perlu kami tatas, palang-palang juga kami papas, supaya jalannya Sama Rata dapat tercapai……..
Bayang-bayang tembok penjara itu masih terasa di kulitku. Siksaan pejabat kolonial itu seperti baru kemarin menyentuh badanku. Para pejabat kolonial ternyata belum beranjak pergi. Ia kini digantikan dengan kulit sawo matang……bangsaku sendiri!!! Kulihat pejabat pribumi yang rakus dan tamak. Mereka menggemukkan kekayaannya dan tak malu ketika menjumpai rakyatnya yang miskin dan lapar! Ingin aku melempar pukulan kepada mereka yang duduk sebagai anggota perwakilan rakyat. Apa yang sudah engkau lakukan? Apa yang sedang engkau perbuat? Siapa sebenarnya yang engkau wakili? Curahan pertanyaan itu yang ingin kuteriakkan agar mereka bangung dari tidur panjangnya selama sidang. Agar mereka kembali teringat kalau keadaan sosial tidak beranjak jauh. Keadaannya sama seperti ketika aku tinggal dan berdiam disini. Malah lebih memalukan! Rakyat miskin dan tertinggal ada dimana-mana. Kini aku ingin bertanya padamu anak muda : kenapa engkau juga ikut-ikutan diam? Sejarah selalu berkata bahwa perubahan untuk rakyat selalu dihasilkan oleh anak-anak muda. Nyalimu sebenarnya sudah diinjak-injak anak muda. Kehormatanmu sedang ditenggelamkan ketika kekuasaan tidak lagi mengacuhkan prinsip kedaulatan. Kudengar dari kawanmu ada banyak kekayaan negeri ini yang sekarang diambil. Terdapat banyak potensi alam yang kini dirampok habis oleh perusahaan yang kurasa dikuasai oleh anak cicit VOC. Jangan kau bilang kini tidak ada lagi musuh bersama. Itu dalih nista yang membuatmu malas untuk berjuang! Memangnya sifat rakus yang hinggap di dahi para pejabat bukan musuh bersama? Memangnya ketiadaan tanggung jawab bukan musuh bersama? Lalu kekayaan yang menumpuk-numpuk dari perusahaan juga bukan musuh bersama? Ingatlah engkau bukan hidup di negeri yang tak punya masa lalu dan sejarah. Kalian berada di sebuah tempat dimana perjuangan, perlawanan dan pergolakan adalah api yang menghidupi negeri ini. Musuh bersama kita adalah semua pertanyaan yang kusebutkan di atas.
Kehidupan yang berdaulat, merdeka dan berada di bawah nilai-nilai keadilan. Nyatanya, itu masih belum ada di negeri ini !! kami baru tahu jika apa yang kami perjuangkan sekarang hasilnya disia-siakan. Aku baru juga mengerti kalau yang muda belum tentu mereka yang gigih dan berani. Kian tinggi pendidikan tidak membuat nyalimu bertambah. Pendidikan tinggimu hanya menyetorkan kesediahan dan duka. Kau tulis sesuatu yang dulu kami kutuk bersama: kemiskinan yang diukur lewat jumlah dan definisi; pergerakan yang hanya bisa diteliti dan dianalisis; korupsi yang hanya disiarkan dan dikecam. Semuanya hanya hidup dalam angan-angan serta bayangan! Kalian waktunya bukan hidup dari buku ke buku: sentuhlah, hiduplah, berjuanglah bersama mereka yang masih belum mendapatkan haknya.
Salamku,
Mas Marco
fauzansigma said,
October 12, 2008 at 8:04 pm
salam kawan!